Rabu, 22 Desember 2010

Gurihnya Ayam Ungkep Khas Warung AU

Ayam Ungkep khas Warung AU. (Foto: Firha N)
YOGYA (KRjogja.com) - Bosan dengan suasana restoran dan kafe, para pecinta kuliner dapat menikmati sajian ayam ungkep di Warung Ayam Ungkep (AU). Warung ini mengusung konsep tradisional dengan menu andalan ayam ungkep ditambah menu lainnya seperti sayur asem, tempe garit, nasi pecel dan sejumlah menu penyetan sebagai menu alternatif untuk Anda yang vegetarian.

"Kami sajikan menu yang memang populer di lidah masyarakat kita. Dan yang spesial adalah Ayam Ungkep dari ayam kampung pilihan,” ujar pemilik Warung AU, Ani Rohmani diwarungnya yang berlokasi di di Jalan Jambon No. 46 Kragilan Jatimulyo Yogyakarta, Sabtu (18/12)

Ani menjelaskan ayam ungkep ini disajikan dengan cara digoreng dilengkapi dengan sambal korek dan lalapan berupa mentimun, daun ketela dan kemangi, serta disajikan dengan piring gerabah yang dilapisi daun pisang.  Ini menjadikan sajian terasa lebih istimewa. Semua masakan yang disajikan di warung ini terbebas dari tambahan vetsin dan nasi yang terbebas dari campuran zat kimia.

Ayam Ungkep adalah ayam kampung yang proses pengolahannya dengan cara diungkep. Sebuah tradisi memasak yang banyak digunakan oleh nenek moyang jaman dulu. Proses pengolahan dengan cara seperti ini menghasilkan daging yang empuk dan bumbu yang meresap. Menggunakan resep ingkung ala kampung menjadikan rasa yang lebih gurih dan lezat. ”Sedangkan untuk minuman, kami menyediakan minuman tradisional berupa teh gelas, teh poci, kopi, bajigur, bandrek, dan lain-lain” tambahnya. Untuk harga ayam lengkap/utuh Rp. 50 ribu saja.

“Soal rasa, meskipun tanpa vetsin kami tetap memberikan cita rasa yang tinggi, dan sambalnya pas untuk Anda yang menyukai rasa pedas,” katanya berpromosi.
Warung ini juga menjual Ayam Ungkep sebelum digoreng. dijual dalam bentuk beku dan dapat digoreng kapanpun Anda inginkan. Cocok untuk persediaan lauk di rumah. Cukup dimasukkan dalam freezer dan dapat bertahan hingga 1 bulan.

Sebelum membuka warung ini, Ayam Ungkep sudah melayani konsumen dengan memanfaatkan kediaman Ani Rahmani di Perum Nogotirto Asri No 35 Karangtengah Nogotirto Gamping Sleman. Namun, sifatnya masih melayani pembelian untuk dibawa pulang.  ”Berdirinya warung ini menjawab keinginan banyak konsumen untuk bisa menikmati di tempat kami,” lanjutnya.

Disebut warung karena konsep tempat yang dibuat sangat sederhana, dan dilengkapi cakruk atau tempat khas untuk nongkrong orang desa yang berada di lokasi antara sawah dan kebun. Keberadaan cakruk ini menjadikan suasana warung ini menjadi sejuk dan nyaman sekaligus menambah kenikmatan dalam menyantap sajian menu warung ini.

“Kami ingin memaksimalkan potensi alam, memberikan sajian yang lezat dan sehat dan menghindari bahan-bahan yang banyak mencemari lingkungan,” pungkasnya. (Fir)

Selasa, 21 Desember 2010

Wisatawan Mulai Diperbolehkan Naik Ke Candi Borobudur


Kawasan Candi Borobudur tertutup abu vulkanik erupsi Gunung Merapi di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Borobudur, Magelang, Jateng. FOTO ANTARA/Anis Efizudin
TEMPO InteraktifMagelang -Setelah ditutup untuk kunjungan wisatawan karena bencana erupsi Merapi, candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah kembali dibuka, Senin (20/12). Secara bertahap, wisatawan yang datang ke candi diperkenankan naik ke atas tubuh candi.

Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Marsis Sutopo mengatakan, pembukaan dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi wisata dan sumber pengetahuan di Borobudur pada masyarakat. Meski demikian, wisatawan tak sepenuhnya bisa naik hingga ke puncak candi. “Baru sampai lantai tujuh saja,” kata dia.

Di lantai itu, wisatawan pun hanya diperkenankan mengunjungi beberapa bagian saja. Semisal selasar dan lorong candi. Adapun di bagian barat candi masih tertutup untuk umum. “Karena masih ada proses perbaikan bagian candi,” kata dia.

Proses perbaikan juga masih berlangsung di lantai puncak candi, yakni lantai delapan hingga sepuluh. Dengan alasan itulah, Balai Konservasi hanya memperkenankan wisatawan naik hingga ke lantai tujuh saja.

Diberitakan sebelumnya, Jumat (10/12) lalu, puncak stupa induk candi Borobudur mengalami kebocoran. Upaya perbaikan dilakukan dengan menambal celah batuan yang bocor dengan mortal araldit, yakni campuran pasir dan kapur. Akibat kebocoran itu, air hujan yang turun mengguyur candi meresap ke batuan di bawahnya. Sehingga, jika tak segera dilakukan perbaikan, kondisi itu dikhawatirkan akan mengancam kerusakan candi.

Candi Borobudur mulai ditutup untuk umum sejak awal November lalu. Saat itu, seluruh bagian candi tertutup guyuran abu vulkanik Merapi. Untuk memberi kesempatan pembersihan dan perawatan, candi pun ditutup.

Sebenarnya, sejak pertengahan November itu, telah banyak wisatawan yang datang ke candi. Namun mereka hanya diperbolehkan di pelataran tanpa bisa naik ke candi. Untuk mencegah pengunjung tak melanggar aturan itu, petugas memasang pintu-pintu penghalang di beberapa bagian candi.

Pembukaan itu mendapat sambutan positif dari sejumlah wisatawan. Mereka berharap, perawatan dapat rampung cepat dan candi bisa dibuka sepenuhnya. “Cukup senang bisa melihat kembali Borobudur setelah terkena bencana Merapi,” kata Hendi, seorang wisatawan asal Semarang yang datang ke Borobudur. 

Minggu, 19 Desember 2010

WISATA NGEBRUK PLANTERA - KENDAL

Surga Buah Itu Bernama Ngebruk








Puluhan tahun lalu, mungkin hanya hamparan perkebunan cengkeh yang bisa dilihat di kanan-kiri Desa Patean, Kecamatan Sukorejo, Kendal. Memang kejayaan cengkeh masih tersisa, namun ratusan hektare lahan yang dikelola PT Cengkeh Zanzibar itu kini disulap menjadi perkebunan buah berkualitas dengan nama Sentra Buah Prima Ngebruk. Lebih menarik lagi, areal itu bakal dijadikan tempat wisata agro.
Lokasinya berjarak sekitar 40 km dari Semarang dan bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Bersama Budi Dharmawan, Ketua Yayasan Obor Tani (Yabortan) dan beberapa karyawannya, saya mengambil jalan via Boja. Sampai di pertigaan di mana ke kiri menuju Temanggung dan ke kanan ke Sukorejo atau Curug Sewu. Kebun Ngebruk hanya sekitar 300 meter dari belokan yang ke kanan.

Sebenarnya terdapat dua lokasi kebun yang dibelah jalan raya. Dari arah Boja, sisi sebelah kiri adalah Blok Pamosan berluas 120 hektare. Di situlah nanti pusat agrowisata Kebun Ngebruk bakal dibuka untuk tahap awal. Adapun areal di sisi sebelah kanan jalan yang dinamakan Blok Surgong berluas 110 hektare hingga kini yang masih terus dibenahi.

Bukti keseriusan pengelola membuka kawasan wisata agro bisa dilihat pada pemercepatan pembangunan gedung auditorium, penambahan mobil wisata, kafetaria dan hortishop (toko buah dan penjualan sarana produksi seperti bibit dan pupuk), saung-saung atau gazebo tempat peristirahatan, serta infrastruktur lainnya.

Hari itu, sebelum menikmati wisata buah di Blok Pamosan, saya diajak menjelajahi Blok Surgong terlebih dahulu. Jalan berbatu dan medan terjal menantang penjelajahan dan cukup memacu adrenalin kami saat menaiki pebukitan di Surgong dengan naik Pajero hingga hampir ke puncak. Perasaan deg-degan itu pun langsung sirna saat melihat hamparan belasan ribu pohon buah naga di sana.

Rencananya beberapa bungalow untuk peristirahatan akan dibangun di situ. Dan pada ketinggian 450 meter dpl itu masih banyak pohon cengkeh kokoh berdiri. Ah, akhirnya sampai juga kami ke waduk buatan. Waduk yang mampu menampung air hujan hingga 10 ribu m3 itu sangat dibutuhkan untuk kontinuitas penyiraman buah, apalagi di musim kemarau.

Pada ketinggian itu, sungguh luar biasa menikmati pemandangan dari waduk. Dari kejauhan tampak Gunung Prau, Sindoro Sumbing, Ungaran, dan Merbabu. Memesona benar. Suasana yang sejuk dan tenang rasanya bisa membuat pikiran stres akibat padatnya aktivitas saban hari sekejap lenyap. Sebenarnya saya belum puas, tapi wisata kebun di Blok Pamosan sudah ”menanti” kunjungan kami. Jadi kami segera turun dengan perasaan sedeg-degan ketika naik.

Sampai di tujuan, terlihat gedung auditorium megah yang baru sekitar 80% dirampungkan. Areal parkir yang mampu memuat lebih dari 20 mobil dan 4 bus juga tengah disiapkan. Walaupun belum secara resmi dibuka sebagai agrowisata, sudah banyak rombongan yang mampir menghabiskan waktu menikmati hamparan kebun buah. Ya, sekarang tentu saja harus memberi tahu pengelola dahulu sebelum datang. Tapi nanti setelah resmi dibuka, pengunjung bisa datang langsung merasakan sensasi berwisata buah.

Kendati disediakan mobil wisata terbuka berkapasitas sekitar 10 orang, namun pilihan berkeliling kebun dengan berjalan kaki, rasanya bakal lebih menantang. Tempat ini akan jadi surga bagi para petualang atau yang punya hobi naik turun gunung, sebab medan yang dilalui memang berbukit-bukit dengan sungai, serta satu lagi danau buatan seluas 1 hektare berkedalaman 3 meter yang bisa dimanfaatkan untuk memancing atau berperahu.

Berada di antara rimbunnya kelengkeng itoh yang jumlahnya mencapai 9.000 pohon, tentu jadi sensasi tersendiri. Namun sayang, kedatangan saya kali ini sedikit meleset sebab buah baru selesai dipanen. Hanya tersisa 2-3 pohon lengkeng itoh saja yang bisa dinikmati.

Melihat kelengkeng bergerombol begitu banyak, rombongan yang berkeliling bersama Pak Budi, langsung menyerbu. ”Hajar terus, mumpung gratis. Kapan lagi bisa metik lengkeng kaya gini,” seloroh salah seorang anggota rombongan. Dan saya pun tak mau ketinggalan.

Tak hanya lengkeng itoh yang habis dipanen, durian monthong yang per buahnya bisa berharga lebih dari Rp 50 ribu itu juga baru mengeluarkan bunga. Menurut pakar tanaman buah dari Malaysia Erick Lim yang juga menjadi advisor Pak Budi, buah durian bisa dipanen Oktober nanti. Selain durian monthong yang cukup komersil, di kebun itu ada pula rambutan binjai dan rapiah, jambu air, kelapa pandan wangi, nangkadak (persilangan nangka dan cempedak), mangga Thailand, dan srikaya Grand Anona.

Penelitian pun terus dilakukan untuk mendapatkan buah unggulan dan menjaga kontinuitas buah agar bisa dipanen sepanjang musim. Tapi sekadar tengara, pada bulan Oktober buah naga sudah mulai berbuah dan terus ”memerah” hingga akhir tahun. Kalau srikaya, lengkeng, dan jambu bisa kelihatan hasilnya mulai bulan Agustus. Kalau mau semuanya berbuah, datang saja pada November-Desember hingga awal-awal tahun. Begitu saran sang encik yang juga jadi advisor Kebun Buah di Taman Wisata Mekarsari di Cibubur Bogor serta beberapa kebun buah milik pengusaha agro dan pemerintah daerah.

Dia juga mengembangkan sejumlah varietas di kebun koleksi seluas lima hektare. Sebut saja, durian Musang King yang sangat terkenal di Malaysia, Jeruk Madu, Nangka Madu, Kapulasan (mirip rambutan berukuran besar dimana 1 kg bisa berisi 10 buah dan bijinya juga bisa dimakan), dan cikumega (sawo besar berukuran 3-6 ons).

Penasaran seperti apa bentuk dan rasa buah-buah eksotis ini? Ide Erick dan Pak Budi untuk kembali ke Ngebruk beberapa bulan lagi dan makan buah sekenyangnya, pasti akan saya lakukan. Merasakan nikmatnya memetik durian monthong langsung dari kebun. Atau mencicipi segarnya melon raksasa yang diambil dari para petani plasma? Sungguh sebuah wisata yang pasti membuat kita riang, dan perut kenyang.

Anona, Selangit Harganya

Sewaktu Pak Budi Dharmawan menawari untuk mencicipi srikaya seharga Rp 147 ribu per buahnya, saya agak gamang juga. Apalagi, seumur-umur baru ini kali saya melihat buah srikaya atau anona yang beratnya hampir 1 kg.

Srikaya yang saya cicipi ini cukup terkenal di Australia dengan nama jade fruit. Berbeda dengan srikaya lokal yang banyak sekali bijinya sehingga setiap kali harus ngelepeh biji-biji itu, maka anona yang satu ini cukup diiris lalu disantap. Daging buahnya pun sangat tebal dengan biji yang bisa dihitung dengan jari.

Nah di luar negeri, harga srikaya atau custard apple itu memang mencapai ratusan ribu rupiah tergantung ukuran dan kualitasnya. Rp 147 ribu di atas sudah hasil konversi dari 21 dolar Singapura untuk satu buah.

Di Kebun Ngebruk, komoditas srikaya juga terus dikembangkan oleh Yabortan. Bibit berkualitas menjadi syarat mutlak untuk memperoleh buah dengan grade A (terbaik). Dari dua bibit mahal yang diuji coba, satu gagal namun yang lain mampu bertahan.

Selanjutnya 1.000 bibit srikaya ditanam dan selama tiga bulan masih bertahan. Pemilik perusahaan perkebunan PT Cengkeh Zanzibar itu pun langsung menambahi kebunnya dengan 5.000 bibit lagi yang sudah ditanam sekitar dua bulan terakhir.

Dan hasilnya berupa varietas srikaya Grand Anona-Ibama yang mampu menembus pasar dan tak kalah bersaing dengan buah-buah impor. Berat buah produksi Kebun Ngebruk berkisar 0,5-0,8 kg. Jika dirata-rata berat mencapai 0,7 kg. Harga jual di tingkat lokal mencapai Rp 50 ribu per kilogramnya.

Saya membayangkan, jika banyak petani mau belajar dan beralih membudidayakan buah-buah bernilai jual tinggi seperti itu mungkin sentra hortikultura buah-buahan akan berkembang pesat. Dan dari rupiah yang dihasilkan ini pun bakal mampu memberikan keuntungan untuk meningkatkan daya beli petani kita yang terpuruk.

”Menanam buah bernilai jual tinggi itu bisa dimulai dari pekarangan atau kebun yang kita miliki. Bahkan lahan telantar di pinggir-pinggir jalan yang kami lewati, sebenarnya bisa disulap menjadi kebun buah,” ujar Budi Dharmawan.

Yang jelas, dengan nilai komersial yang sedemikian menggiurkan, buah-buah berkualitas ini tak kalah dengan buah asing. Benih yang semula didapat dari impor, juga terus dikembangkan dengan varietas lokal dengan cara penyambungan. Namun tentu saja dibutuhkan ketelatenan dalam merawatnya. Selain bibit berkualitas, syarat-syarat pemupukan yang benar mutlak harus dipenuhi. Pemupukan pun dilakukan seminggu dua kali dengan penyiraman teratur.

Soal air, Kebun Ngebruk tentu tak perlu khawatir sebab hal tersebut sudah dipikirkan dengan membuat dua waduk buatan. Tanaman buah cukup sensitif dengan air sehingga rutinitas ketersediaan air harus tetap dijaga. Apalagi pada saat musim kemarau, debit air dari waduk buatan yang menampung air hujan bisa digunakan untuk menyirami tanaman.

Nah, agar tak kecele, jika ingin melihat srikaya super itu berbuah, Anda bisa datang ke Kebun Ngebruk saat mulai panen di bulan Agustus. Selanjutnya, silakan menikmati sensasi srikaya Grand Anona itu langsung dari pohonnya.

Sumber: SuaraMerdeka

Peta Lokasi :
Data peta ©2010 Tele Atlas - Syarat Penggunaan
Peta
Satelit
Hibrida

Kenangan Tour Karimunjawa


Karimunjawa



"mau kemana nih, Bali??"
'kalau Karimunjawa piye? kamu kan pengen kesana'
"hahh.. backpackeran??"
'iya...'
"bukannya mustinya kita santai pas liburan?"
'kan bisa santai juga nanti disana...'

Akhirnya saya dan istri  memutuskan untuk ke Karimunjawa, sebuah kepulauan yang sejak tiga tahun lalu pengen aku kunjungi tapi selalu gagal. Saya tertarik banget sama wisma apugnya Pak Joko yang terkenal ituh, tapi semenjak meninggalnya Pak Joko websitenya jadi engga terupdate. Sempat saya hubungi via email juga tidak ada balasan sampai akhinya saya menemukan Pak Ipong, salah satu penduduk Karimun yang kebetulan mempunyai hotel sekaligus birowisata disana dan mau membantu kami untuk pengurusannya.

Setelah email-emailan panjang lebar akhirnya kami mempunyai kesepakatan memakai jasa Pak Ipong untuk pengurusan tiket dan tetek bengeknya. Rencana awal mau di Wisma Apung dua malem tapi engga enak.. masa udah bantuin engga nginep di hotelnya hihi.. jadi akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di Wisma Apung semalem dan di hotel Duta Karimun semalem.

18 desember...
Kami berangkat dari Semarang tgl 18 desember, sesuai jadwal kami menuju ke Pelabuhan Tanjung Mas jam delapan pagi. Disana ternyata ada Pak Ipongnya sendiri, deg-degan juga karena tiketnya sempet ilang.. ehh.. tau2nya keselip.. duh Pak, kalo ga jadi brangkat piye nih?? :p.
Pukul 9 wib tepat kapal Kartini berangkat. Kami dapet tiket bisnis, ruangannya nyaman, ber-AC. Waktu diatas kapal kami sempet ditukerin ama dua orang anak tiket kelas eksekutif, wah mayan nih dapet rejeki!!. Tapi setelah dicoba ternyata kelas eksekutif ada di lantai dua, kalo kapal gerak makin terasa goyangannya. Alamakkk.. kok gini??? akhirnya minta tukeran lagi dah, untuk si mbak engga sewot :p.


(kiri) kapal kartini, (kanan) ruang bisnis

Pukul 13.00 kapal bersandar di pelabuhan Karimun, kami sudah dijemput sama Pak Srianto, driver sekaligus tour guidenya.


(kiri) gate selamat datang (kanan) peta tempat wisata di karimun

Kami singgah sebentar di Dewa Daru Resort untuk lunch dengan menu sayur bening, kurupuk teri, ikan goreng, buah pisang dan es kelapamuda. Makanannya sederhana tapi rasanya yummy :). Setelah makan kami di datangin ama Pak Ipong...


salah satu tempat penginapan di dewadaru resort

"Mas, ada rombongan yang engga mau dipisah nih, mas dipindah aja ya?, mau di Dewadaru sini atau Karimun Inn?"
'aduhh.. saya buta nih soal Karimun, saya ngikut deh apa yg baik'
"okeh, di Karimun Inn aja ya?"

Setelah lunch, Pak Sri mengantarkan kami ke Karimun Inn untuk beristirahat sebentar plus mandi-mandi. "Nanti jam tiga siang tak jemput loh ya, siap-siap" pesan Pak Sri yang wajahnya selalu sumringah :p.


(kiri) kamar di karimun inn, (kanan) resto di karimun inn

"Wah, ternyata engga dipinggir pantai ya?" huks.. tau gitu di Dewadaru, sempet nyesel juga awalnya milih di tempat ini.
Di tempat ini Pak Ipong nyewain family room, satu rumah gitu dengan dua kamar plus satu ruang tamu buat nonton TV. Weewww.. ternyata tetangga kita satu rumah menyenangkan banget, dapet kenalan baru yang ramah & baik. Wah, ga jadi kecewa deh udah dipilihin di tempat ini, jadinya liburan double date hahaha...

Tepat pukul tiga sore Pak Sri jemput, kita berempat berlayar gabung dengan rombongan yang ternyata kakak kelas saya pas kuliah tujuh tahun lalu, halah mbulet wae ternyata dunia ini :p. Dasar apes, schedulenya engga saya print dan masih ngendon di email, padahal waktu itu acara snorklingan, uhuks.. ga bawa celana renang. Jadinya saya dan istri cuma bengong2 aja liat orang2 pada jebar jebur.

Setelah acara Snorkling di Pulau Cemara Besar kami lanjut berlayar ke Tanjung Gelam untuk melihat sunset. Sepertinya tempat ini masih termasuk Pulau Karimunjawan, tapi sisi yang lain. Sore ini langit kurang bagus, sunset terbentuk engga sempurna, wah.. apes lagi nih... tapi kami sempet bikin foto narsis buat pembaca petawisata, foto yang judulnya salam cinta dari karimunjawa... :p


salam cinta dari sunset di karimunjawa

Dari Tanjung Gelam kami pulang ke motel untuk mandi, kemudian dilanjutkan makan malam di Dewadaru Resort. Menu kali ini ikan goreng, ikan asep, oseng-oseng kerang, sayur asem (kalo gak salah :p), krupuk, semangka, pisang, teh anget.. nyamm... enak, saya suka oseng kerangnya.
19 desember...

Pagi-pagi kami udah dijemput sama Pak Sri untuk berlayar ke Pulau Menjangan Kecil dan Menjangan Besar untuk melihat taman laut. Hari ini juga kami berencana pindah penginapan ke Wisma Apung Pak Joko.
Kami memakai boat milik perhubungan yang di dalemnya ada kaca yang menghadap ke bawah, jadi dari atas kapal bisa melihat terumbu, ikan dll, bagus euy.

(kiri) pemandangan bawah laut dari atas kapal, (kanan) snorkling bareng ikan2

"Pak, mau pipis dimana nih?" celetuk salah satu rombongan ke pengemudi...
"waduh, ya nyebur aja ke laut buk sekalian snorkling" sahut Bapak pengemudi

Hiyaaahhh, akhirnya semua pada rame2 nyebur deh sekalian snorklingan huahua... semua pada cengar-cengir tuh waktu nyebur, saya tentu saja ikutan nyumbang pipis di laut :p. Kali ini persiapan sudah ok, jadi bisa snorklingan berdua, asiikkk. Makasih banget Pak Srianto buat panduan ke taman lautnya, tepatnya narik kami berdua :p... gpp ya Pak, kan bapak yang pake sepatu katak haha. Pak Sri ini ternyata anggota scuba diver, pantes di laut enak banget keluar masuk air, tau2 nyelem... eh muncul lagi... nyelem lagi.. sempet diambilin kerang warna pingky dari dasar laut buat kenang2an, tapi kok ya malah ketinggalan di perahu :(( huaakk..

Setelah di Pulau Menjangan kita melanjutkan perjalanan ke Kura-Kura Resort, sebuah pulau yang konon dibeli dan dikelola oleh orang asing. Namun sayang, saat itu rombongan engga boleh bersandar disana, mungkin takut privasi tamu2nya terganggu. Yah, kita maklum sih...

Acara terakhir kita ke Wisma Apung sekalian pindah rumah. Wisma Apung ternyata ada banyak disini bukan Pak Joko doang (baru tahu nih). Saat itu kami di Wisma Apung lain karena kabarnya di Pak Joko Sudah full booked :(. Wisma Apung yang ini kondisi kamar mandinya mengenaskan, engga ada air.. mampus dah.


wisma apung

"Gimana? mau pindah ato balik ke karimun inn?" tanyaku ke istri yg tampangnya udah keliatan ngeri begitu liat kamar mandinya :p
"tetep di karimun inn aja ya?"

Demi kelancaran buang air besar dan kecil akhirnya kami membatalkan untuk pindah ke Wisma Apung dan balik kandang. Wisma Apung ini sekaligus tempat untuk penangkaran Hiu dan Penyu entah dengan tujuan pelestarian atau sengaja sebagai obyek wisata kami kurang tahu.


(kiri) kolam hiu, (kanan) penangkaran penyu

Kalau mau berenang dengan Hiu diperbolehkan loh, kabarnya sih Hiu ini udah jinak. Tapi yang namanya Hiu ya tetep aja Hiu, jadi lebih amannya kami memilih untuk mengamati dari atas saja :p.

Setelah dari penangkaran Hiu kami pulang untuk mandi2 kemudian dijemput lagi untuk makan Malam di The Nirvana Lodge. Wuaahh tempat ini keren banget, semua bangunan dari kayu. dam ruangan2nya tertata apik. Arsitekturnya bagus, kami ber empat makan malam dilantai dua dengan pemandangan depan menghadap laut dan atas bintang2, romantiss :D. Menu malem terakhir ini rada dimanjakan, kami dapet sate ayam, cumi tepung, ikan bakar, sayur model cap cay gitu dan semangka, semua dalam porsi raksasa. Kami berempat sampe kewalahan, yg habis cuma ikan bakarnya, yg lain nyerah...


salah satu sisi nirvana lodge

Setelah makan malam kami mampir di toko souvenir, yang dijual kebanyakan khas daerah situ seperti perhiasan dari kerang berupa gelang, kalung dll. Kalau makanan yang dijual rumput laut, teri, krupuk. Saya pribadi tertarik dengan tongkat yg diukir bentuk naga terbuat dari kayu dewadaru (kayu khas karimun), sayang duit di dompet dah tipis huhuhu...

Hari ini rencana pulang... jadwal kapal cepat Kartini engga ada pada hari ini, jadi kami pulang dengan Kapal Muria, lebih gedhe emang tapi ternyata engga menjamin lebih tenang. Atau memang bulan2 Juli-Agustus ini ombak lagi gedhe-gedhenya ya? Goncangannya terasa banget.. buset dah..
(kiri) kapal Muria, (kanan) ruang bisnis

Perjalanan dengan kapal Muria ini lebih lama, waktu itu kami menempuh 7 jam perjalanan laut. Kami menempati kelas Bisnis, bangkunya mayan lebar dan empuk, ber-AC juga.
pemandangan dari atas dek Kapal Muria

Sekian share cerita dari karimunjawa... salam hangat petawisata...

tips :
- makin atas kapal, goyangan makin krasa, jadi pilih kelas bisnis aja yang berada di dek bawah. antimo wajib dibawa.. abis nelen langsung bobo ato paling ga pura2 merem :p
- di karimun terkenal dengan kayu yang namanya dewadaru, banyak kerajinan dijual dalam bentuk tongkat dll di toko suvenir, wajib tuh buat kenangan tapi mahal... siap2 aja 300rb.
- karena ini kepulauan jadi kalo buta medan disarankan pake jasa guide aja kecuali bawa duit banyak buat sewa boat pribadi :D
- kalau mau acara padet benernya 2 hari semalem semua kepulauan udah bisa diputerin
- di pintu masuk pelabuhan ada peta lokasi wisata, baca baik2 kalau mau tau tujuan yg dipengen
- kapal Muria kamar kelasi bisa disewa buat yg suka mabok bisa tidur disana. 1 kamar isi 4 tempat tidur.

note :
- Makasih banyak buat Biro Wisata Pak Ipong, pelayanan yang membuat kami selalu kenyang dan hari-hari yang penuh dengan jalan-jalan. Birowista ini bisa diakses disini dan disini. Moga sukses ya Pak..
- Thanks buat tetangga kamar sebelah Adi dan Rizki, nice to meet you all...

Kaliurang Dipadati Pengunjung, Meningkat 10 Persen




NILAH.COM. Sleman - Objek wisata bukit Kaliurang di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada libur Natal bersamaan dengan libur panjang sekolah dipadati pengunjung termasuk dari luar daerah.

"Pengunjung hari ini dari pagi hingga malam kami prediksikan bisa mencapai tujuh ribu orang lebih," kata petugas di tempat pemungutan retribusi (TPR) Kaliurang Atmadi Kurniawan.

Menurut Atmadi Kurniawan, pengunjung objek wisata Kaliurang tidak hanya dari DIY dan daerah sekitarnya, tetapi juga dari berbagai kota di luar daerah seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan bahkan kota di luar Pulau Jawa.

"Jika dilihat dari nomor polisi kendaraan yang mereka tumpangi, banyak wisatawan yang datang dari sejumlah kota besar di Jawa, dan sebagian lainnya dari Sumatra," kata Atmadi Kurniawan.

Sedangkan wisatawan lokal, jumlahnya juga banyak, dan mayoritas mereka menggunakan sepeda motor.

Wisatawan mulai memadati objek wisata Kaliurang sejak Kamis (24/12) lalu, dan diperkirakan puncaknya akan terjadi pada malam tahun baru nanti.

"Libur Natal dan Tahun Baru tahun ini bersamaan dengan libur panjang sekolah, sehingga banyak keluarga yang memanfaatkan untuk mengunjungi Kaliurang," kata Atmadi Kurniawan

Diperkirakan jumlah pengunjung Kaliurang pada libur natal dan tahun baru kali ini akan meningkat sekitar 10% dibanding tahun lalu.

"Jika pada tahun lalu selama libur Natal dan Tahun Baru jumlah pengunjung mencapai 16.000 orang, maka tahun ini diperkirakan bisa mencapai 18.000 lebih," katanya.

Untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung, pengelola objek wisata Kaliurang menambah jumlah petugas di TPR, sehingga pengunjung dapat terlayani dengan baik.

"Selain itu, pengamanan juga ditingkatkan dengan menempatkan anggota polisi untuk melakukan pengawasan dan patroli keamanan guna mengantisipasi kemungkinan terjadi gangguan keamanan dan ketertiban." [*/lia]